“Hidup ini dinilai dari akhirnya”

Dulu ketika aku hidup di masjid kalimat seperti itu selalu dikumandangkan, bahkan hampir tiap pekan. Hidup itu bukan dinilai diawal atau prosesnya, tapi berkesudahannya. Sebenarnya tak begitu-begitu amat teksnya, kalau tak salah lebih sesuai “amal itu dinilai dari kesudahannya”. Toh amal dilakukan sepanjang kita ini hidup, begitu pembelaannya.

Adigium ini mirip saat kita ujian akhir sekolah. Meski kita rajin gosok gigi, cuci kaki dan minum susu sebelum tidur, meski kita datang jam 5 subuh pulang jam 10 malam di sekolah kalau kita tidak mengerjakan satu soal pun saat ujian akhir, pastikan kita akan mencuci kaki sebelum tidur sepanjang tahun di kelas yang sama tahun depan.

Tahan dulu jangan buru-buru membantah, iya benar bahwa hari ini kita diajarkan betapa proses dalam sebuah usaha lebih penting daripada hasil. Fokus pada hasil bisa instan, manipulatif dan culas. Proses mendidik kita dan menjadi guru terbaik. Begitu juga baik, benar dan menguntungkan bagi motivator. Tapi menafikan hasil akhir juga kurang elok rasanya.

Jadi kan kita ngomongin hidup, dengan memastikan ujung hidup kita baik, kita bakal mati-matian mempertahankan yang baik sampe mati. Kata yang suka baca al matsurat kayak gitu namanya istiqomah. Betapa banyak kita memulai dengan yang baik, dikenal sebagai orang baik dan berakhir dengan perbuatan menjijikkan, selamanya kita akan dikenal sebagai orang yang menjijikkan. Sesimple itu dan semudah itu.

Jadi masa lalu it tak usa diratapi dalam-dalam, masa depan it masih ghaib dan kita hidup saat ini, saat saya menulis ini dan anda membacanya. Tapi yang disebut saat ini tadi probabilitas untuk menjadi saat terakhir tak terhingga.

Panjang ya mukadimahnya, memang. Kalimat intinya disini, ini tentang saya, hidup saya dan perasaan saya. Saya merasa memulai hidup dengan baik, berkumpul dengan orang baik, kini melakukan hal yang buruk dan terancam berakhir sebagai orang yang buruk.

Udah gitu aj

Advertisements

3 thoughts on “Hidup Itu Dinilai dari Akhirnya

  1. terusss..aku harus bilang wauw! gitu 😀
    kayaknya su’udzon banget deh,hati-hati dengan kata “saya merasa..” karena dengan itu seseorang akan selalu tersugesti, segala kemungkinan bisa aja terjadi ko .jadi jangan kebanyakan merasa ya bang fahri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s