the beginning of revolution

Just another WordPress.com weblog

post1

on January 6, 2012

melihat sekitar adalah melihat sekitar itu sendiri. maksudnya melihat dalam arti sebenarnya. jujur ya, setelah gusti pangeran nagsih kesempatan kita melek, kita jarang sekali benar-benar memperhatikan sekitar. agak lebay mungkin tapi misalnya ini bangun tidur liat bantal, Ya Allah ini bantal harganya 20 rb, dulu ada yg lebih bagus hrganya 30rb, lbih empuk tapi aku beli yang ini, murah karena memang tidak ada uang, masyaAllah betapa butuh usaha yg keras untuk mendapatkan uang, alhamdulillah bisa beli bantal walo murah dan sederhana. wah mantep tuh, atau Ya Allah ini bantal asalanya dari kapas, ntu kapas kan taneman ya Allah, kok bisa tumbuh gt ya, pasti ada campur tanganMu, masyaAllah tuh kapas yang tau dari pohon di daerah mana, sapa yang nanem sampe juga buat saya tidur disini. tuh bibit kapas pertama kali juga atas kuasa Mu duh gusti pangeran. gitu mantep ya, sayangnya ga pernah tuh kita ngelakuin itu, hanya sekedar melihat saja…

eh pendengaran ama penglihatan lebih didahulukan mana ? pernah denger sesungguhnya Allah menciptakan pendengaran, penglihatan dan hati untuk dimintai pertanggungjawabannya. apakah urutan penyebutan ini menunjukkan skala prioritas. mungkin sama pentingnya, pendengaran dan penglihatan itu gerbang masukknya ilmu. orang yang mungkin buta, indra pendengarannya kabarnya bakal jauh lebih peka. maka ketika kita jarang sekali jujur melihat sesuatu dengan lebih dalam, jangan2 kita juga jaraaang sekali benar-benar mau mendengar lebih dalam. kita ini kan cenderung good speaker (minimal dalam hati kita ngomelnya) dibandingkan kita mau belajar mendengar yang benar-benar mendegar -iki aku ngomong opo?

nulis 3 paragraf aja susahnya oke kita lanjut ya, ini tentang perenungan. pernah gak merasa tiba-tiba hening, kalau pas kita merenung. senyum pun kayak dipaksain klo lagi ada masalah. kita perlu sometimes melakukan apapun lebih dalam, merasakan tiap detiknya dan membiarkan waktu berjalan lambat. itulah poinnya, kita mneghargai setiap perpindahan durasi, dan kita memerlukan itu untuk memperbaiki semuanya. eh iya, barusan ngomong di radio yang menjadi masalah dalam hidup kita itu bukan masalahnya, bukan soal ujiannya tapi cara kita menyikapi malasah alias jawaban2 kita di soal ujian kita. secara logika, sesungguhnya jalan keluar itu ada di dalam diri kita, serius. yang kita perlukan hanya melakukan semua lebih dalam, lebih menghela nafas, kadang kosong menerawang, mengingat siluet kobodohan kesalahan kita, sedikit sungging senyum atas dilatasi memory bodoh itu kemudian begitu saja, ya begitu saja menyeruak pikiran-pikiran yang kusut kemudian terurai dan mengelompok satu per satu, antri untuk bisa kita ambil menjadi solusi solusi dan amal-amal nyata. -iki ngomong opo menehhh

sudah ya, innamal a’malu binniyat, niatnya belajar nulis blog lagi kok, kontenya penting tapi ga terlalu penting buat saat ini, cuman pengen nulis

Advertisement

7 Responses to “post1”

  1. erlideva says:

    cuma pengen komen, omahe direhab nie…

  2. sakura suri says:

    posting sedikit tapi isinya padet… :D

    two thumbs up kak buat postnya!
    salam kenall. :D

  3. rumahniefha says:

    selamat datang di ibukota Jakarta ^o^

  4. smartsholeha says:

    hmm… paragraf terakhir itu komennya…. hmmm… menarik penyelesaiannya ada dalam diri kita dan bagaimana memandangnya….
    [nuhun dek prof.] bukan buat antum pid..

  5. Selamat Ulang tahun, Pid.. Semoga makin rajin menulis, membaca, dan merenung!

    *maap klo salah komen

  6. ardianfine says:

    dipanjangin lg pid tulisannya, jd buku tuh.. (iki ak malah ngomong opo??:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.