Ukuran-ukuran apa yang kita pakai untuk menakar sesuatu ? subyektif boleh dijadikan takaran nilai. Berarti adakah nilai keadilan didalamnya ? mari bergulat untuk itu. Berdiam dalam pergulatan adalah aib terbesar. Tapi bukankah orang-orang pintar itu meminimalisir ego subjektif dengan membuat kesepakatan-kesepakatan ? bahwa menghilangkan nyawa manusia itu adalah bui hukumnya. Bahwa menzinai anak perempuan orang itu hukumnya boleh. Bahwa meledakkan bom di keramaian adalah ditembak ditempat dan sebagainya sebagainya. Jika ada yang tak bersepakat dengan usaha meminimalisir subjektifitas itu apakah masih bisa disebut subjektif ? itu hanya pemaksaaan tolol dari sebuah system yang kemudian pun secara sepihak disebut negara hukum
Brontak boleh lah sekali-kali, hanya kadang sulit menrima penilaian-penilaian orang atas subjektifitas-menurutku. Bahwa ganteng itu putih dan tinggi, bahwa bekerja itu lulusan UGM, bahwa bodoh adalah tidak bisa mengkali dan membagi dalam rumus, bahwa kalau tidak begini maka tidak begitu. Menyebalkan sekali kadang. Apakah lantas hidup ini harus dipenuhi dengan aturan-auran yang disepakati orang-orang pintar itu lantas kita hars tunduk padahal kita tidak bersepakat ? Adakah sebuah nilai yang orang tanpa reserve menerima aturan-aturan subjektifitas itu dan memberontak baginya adalah dosa terbesar yang harus dibalas dengan rajam dan pengusiran ? ya ada sebuah nilai itu.
Maka sungguh paling adil adalah nilai yang orang pun tak bisa memberontak atas nilai, tapi diberikan koridor luas dalam menterjemahkan kreasi-kreasi. Nilai-nilai samawi menurutku adalah sebuah nilai yang mewakili itu semua. Pergoresan antar nilai samawi musa, isa kemudian Muhammad adalah sebuah perjalanan panjang revisi atas nilai samawi. Jika sebuah komunitas dengan subjektifitas kolektif –yang sekarang kita sebut sebagai objektif- mengharuskan kita meminum minuman memabukkan dalam sebuah jamuan, maka nilai-nilai samawi secara subjektif kelangitan membatasinya. Nah Kalau ada dua nilai kebenaran subjektif seperti ini , lantas mana yang kita anut ? aku manusia dan subjektifitas kolektif itu juga buatan manusia lalu kenapa aku repot-repot tunduk pada yang sejajar dan selurus ?
Jadi berhentilah menilaiku dalam segala kapasitasku, minimal untuk 2 bulan ini.

manusia selalu merasa mampu membuat batasan, padahal itulah keterbatasan dalam dirinya
jgn underpressure gitu dong.. kt panji: take it easy, pren..
lanjuut, gan!
ehehhe
ada apakah dlm 2 bulan inih?
ada idul qurban hehe
waaah.. sepakat ama tulisan ini, fid
*mesti si hafid lagi galau nih
jiah galau…update juga nif hehe
Semoga hanya ukuran atas penilaian Allah yang membuat kita tetap Optimis….
ukuran Allah kayak pegimane yak
ya,,ya,,ya,, aq sangat paham itu..
wede hebat, saya aja ga faham
Ukuran penilaian Allah itu, ya hanya Allah sendiri yang tahu..
kita mah sbg Manusia sok Optimis aja.
Ukuran penilaian punya manusia, terkadang menyakitkan, menyebalkan dan mengecewakan..
kalau ukuran penilaian Allah, beda…ada sudut pandang lain. begitu kan pak FG?