doa

Posted November 7, 2009 by muftisany
Categories: celoteh

para aktivis anti korupsi kemaren bilang “klo dulu ‘98, ada ketidakadilan, masyarakat bergerak dalam arus besar di jalan, demo, aksi, people power, tapi sekarang ketika ad ketidak adilan, masyarakat memilih menggungkapkan dalam dunia kata, dunia ide, pemikiran dan dunia internet menjadi sebuah icon baru” hmmm perasaan baru nulis tetang online, terjawab sudah. di jejaring social, ramai orang 1 juta dukungan untuk, 2jt dukungan untuk, 3 milyar dukungan untuk bla bla bla, adeknya ga mau kalah, follow #blablala dan # blablabla. baiklah, merasakan tak pergeseran-pergeseran itu nampak ? dulu friendster merajalela, lalu blog menjadi primadona, anak-anak MIPA klo ga punya blog kayaknya bukan anak MIPA, ada bapak blogger, ada blog jadi buku, ada pesta blogger until now. namun nampaknya, kita sudah mulai malas nulis, mencurahkan ide, berbagi sampah dengan argumentasi, kini dewanya adalah update status, ur activity dan semuanya yang singkat dan menceritakan keadaan kita, mengomentari orang lain, dan i ilke it !!!

ki ngomong opo tha yo ? haha engga si, namanya juga lintasan fikiran. well done, seorang kawan menulis tentang doa, jadi teringat betapa seringnya kita dimintai doa “eh mas hafidz doain ya biar ini, ini, begini, dan begitu…” “jangan lupa doain yah…bla bla” “ya saling mendoakan saja, semoga kita ……..” pernah lah ya kita dimintai doa seperti itu dan kebanyak dari kita akan menganggukkan kepala, sedikit senyum dan berkata “iya, insyaAllah..” tapi pertanyaannya adalah, seberapa sering doa doa yang itu kita agendakan dalam doa kita yang kita panjatkan sungguh-sungguh diantara doa-doa egois kita ? selepas shalat, ketika kita mengangkat tangan karena begitu pelik masalah kita, seberapa kita ingat doa doa titipan saudara kita ? ah kau tanya aku ? TAK PERNAH !!

iya benar bahwa meng-IYA kan saja sudah merupakan doa, tapi ego kita dalam doa-doa panjang kita tak pernah kita bagi dengan orang lain yang berbusa kau sebut saudara seiman…ah maka itu ijinkan aku minta dengan tulus ikhlas, masukkan daftar doa ini dalam list panjang doa doa kalian, untukku, hanya untukku “Ya Allah, berilah hidayah pada hafidz muftisany amiiin”

peran besar

Posted October 30, 2009 by muftisany
Categories: celoteh

Assalamu’alaikum warahmatullah…..

lisanku sering mengucap doa salam keselamatan ini, tapi bagiku hampa selain ritual memulai sesuatu. Jika dikau merasa hal sama, teruskanlah membaca

rumit jika aku berkutat dengan apa definisi salam, apa dasar hukumnya dan bagaimana faedahnya. Sudahlah, cukuplah aku berbusa-busa seperti itu di dunia broadcasting, aku hanya ingin mengatakan ada yang salah dengan hati kita, dengan kepekaannya ketika simbolisme ucapan hanya berhenti di mulut saja

jangan pernah berharap menemukan tulisan yang runut di blog-blog personal. Ini hanya tafsir harian akan akutnya perasaan dan fikiran yang menyelimuti otakku. Tadi aku berbicara mengenai hati dan kepekaannya, hmmm sampai kapan kita akan benar merasakan nuansa dekat dengan tuhan dalam arti yang sesungguhnya ? kekecewaan datang bertubi-tubi. Dan hari ini parade kekecewaan itu melanda institusi padepokan kaki merapi. Satu konklusi emosional muncul tepat jarum menunjukkan angka 6 dan antara 1 dan 2. Selepas tidur siang nyenyak dalam khotbah-khotbah keagamaan rutin, padepokanku ini memunculkan satu stigma ini “Padepokan kaki gunung merapi tidak toleran terhadap murid padepokan yang miskin”

“perjuangan” semenjak dhuha benar-benar berakhir dengan statement emosional itu, dan murid miskin sepertiku ini harus kembali berhitung, apakah akan meneruskan ke grha pramana untuk sekedar memindah tali toga, atau cukup, berhenti disini ?

kecamuk, dan emosional aku memutuskan cukup !!

tuhan itu maha segalanya, pada saatnya nanti dengan sangat indah, Dia akan memberikan peran besar untukku jika saatnya aku siap, tapi sayangnya tidak melewati padepokan ini.

bosan kami

Posted October 25, 2009 by muftisany
Categories: celoteh

lalu menjadi apakah kita saat ini ? lelah, payah, tergopoh-gopoh dan bosan. Iyalah, bosan menggelayuti hati-hati kami. Mohoooon ampun, minta ijin untuk berbincang dengan-Mu, duh Gusti. Siapalah saya ini hingga berani berkata bosan dengan keadaan, tapi bukalah kami mempunyai hak prerogatif untuk apa yang Kau sebut berdoa kepadaMu ? ijinkan, mahkluk terbodoh dari semua makhluk bodoh ini berucap…

kami bosan rasanya, lalu kami bisa apa. Seluruh energy kami habis untuk sekedar berempati kepada saudara-saudara kami. Kami lelah harus mengumpulkan dus-dus mie bekas untuk kami tempeli “SUMBANGAN UNTUK KORBAN bla bla bla dan bla….” tak sanggup kami mengejanya satu-satu. Duhai, lelah kami harus memforward pesan-pesan untuk mendoakan saudara-saudara kami, bukankah berdoa juga butuh energy ? terkulai kami menyaksikan tayangan infotainment berganti breaking news setiap saat hanya mengabarkan duka itu. Kami kehilangan kelanjutan sinetron stripping kami ketika live report menyesaki dan berlomba-lomba para finalis kontes kecantikan ini membacakan running text dengan mimik serius seolah ini kabar mengerikan, dan memang mengerikan…

Ah, sudahlah tolong kami ingin sejenak istirahat, biarlah dulu Tasik menata batubata mereka jadi tembok, biarlah dulu paryaman menata gundukan tanah kubur, menyeka peluh para pelayat, biarlah dulu sebentaaar saja kami tertidur lelap.. maaf, aku bicara terlampau banyak, toh aku yakin Kau mendengarkan…

janganlah maluku, manokwari, nusa tenggara, manado manalagi..manalagi dan manalagi….

tergagap, bangun aku kumal, gontai dan berjalan….arghh mimpi apa aku barusan, memandang dan menemukan satu catatan kecil, “Berbuatlah sesuai dengan kemampuanmu, sesungguhnya Allah tidak akan merasa bosan sampai kamu sendiri yang merasa bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus sekali pun sedikit.” (Mutafaq ‘alaih)

online

Posted October 20, 2009 by muftisany
Categories: celoteh

menyingkap tabir kebudayaan baru. membentuk prosesi kebudayaan baru memerlukan waktu. Sebuah sistem, masyarakat, penerimaan, dan pola baru diperlukan sebagai sebuah ansir pembentuk kebudayaan. Indonesia ini sbenarnya negara pengekor. baik, ada banyak kebudayaan khas negeri ini, namun berbicara mengenai dominasi yag kita sebut kebudayan asli bangsa ini, sapa yang mau menggunakannya ? sekarang batasannya hanya satu saja, ia keren atau tidak.

kebudayaan macam apa lagi yang akan muncul jik aparamaternya sebatas keren ata tidak ? kebudayaan online. Yah, ruang-ruang publik manusia kita menjadi sangat privat dalam sosok maya mereka. Identitas menjadi kabur, wajah menjadi sketsa dan bicara menjadi bias. Kita sedang mengekspresikan diri kita yang tidak muncul dalam kehidupan nyata kita. 24 jam waktu hidup kita, seakan lebih banyak kita habiskan dalam tuts-tuts keyboard, pad qwerty, taouchscreen ata berjuta istilah yang ibuku saja tidak tahu selain harga panci alumunium di pasaran kredit 500 ribu.

apakah akan berdampak? tentu sesuatu yang baru akan menimbulkan hal yang baru, betapa mengkhawatirkannya kebudayaan ini jika kualitas ukhuwah dipandang berapa banyak friend list dalam jejaring sosial kita, berbicara itu pekerjaan hati, dan dia tak tergantikan kecuali digeser skype, googletalk, messenger atau permainan kata sejenisnya.

akan menjadi apa anak-anak kita kedepan ?
tak apalah, toh aku sedang menikmati ekstase kebudayaan ini sekarang, tak perlu memikirkan makan asal aku bisa online 24 jam gratis !!!

…hufft….

Posted October 10, 2009 by muftisany
Categories: celoteh

menyesal kenapa tidak berangkat saja !!

Download Inspiratif

Posted September 27, 2009 by muftisany
Categories: celoteh

memulai project inspiratif online…baru edisi ke 5 silahkan diunduh
DOWNLOAD

MUDIK

Posted September 25, 2009 by muftisany
Categories: 1

mudik-motor

entahlah, perjalanan mudik ini luar biasa. Sebagian intelektual yang terhrmat menyebutnya sebagai budaya yang sangat indonesia. Apa yang selalu didoktrinkan bahwa masyarakat indonesia berbasis kekeluargaan dan kegotong royongan di tengah individualistik yang memuakkan ternyata masi menemukan muaranya dalam tradisi ini, dalam budaya indonesia ini, MUDIK.

aku tertarik menuliskan ini, karena perjalanan “MUDIK” dari 2 kerajaan, jogja-solo melihat hal-hal yang bagiku menjadi tiba-tiba luar biasa. pernahkan kalian melihat seperti gambar diatas ? sekeluarga mudik, menggunakan motor, dengan satu, dua, tiga anak kecil. Lalu jok belakang disambung dengan kayu 2 ruas untuk menampung barang-barang. Sang ayah harus berjingkat terdesak kedepan mengendarai motor. sang ibu dengan pakaian muslim dan jaketnya menggendong si kecil, anak-anak polos ditengah dengan harapan bertemu orang-orang terkasi untuk ditanyan jatah lebaran. bagiku itu amazing, bener-bener indonesia dan bener-bener perjuangan. Itu lah potret keluarga that have i dream

tiba-tiba ingatanku melayang ke bapak tukang ambil sampah di kompleks rumah. Pak Rista namanya, cerita pengalaman mudanya, sering diluar jawa dan akhirnya beristrikan orang palu. Kata-kata yang ta inget hanya “untung bojoku gelem dijak urip rekoso mas.” splashhhh……mantap-mantap….inilah keluarga yang sesungguhnya, dan aku lihat banyak potret keluarga yang seperti itu, gelem dijak rekoso. BUkan berarti kita ga bole kaya, tapi menyiapkan set mental seperti itu butuh latihan, dan para intelektual muda di kampusku yang terhormat ini, hmmm aku ragukan punya jiwa seperti itu, sebagus dan semanhaji apapaun dia

tersinggung ?

ROHIS ?

Posted September 24, 2009 by muftisany
Categories: 1

rohis

aku tidak punya cukup kata untuk mendeskripsikan anak-anak ini. benar, kami orang kampung, benar kelas SMA kami masi daerah sub sub sub urban. Benar tidak banyak informasi yang masuk ke daerah kami. Tapi kami tumbuh dengan gaya yang selalu aku sebut antara 2 kerajaan jawa,kedalaman berfikir jogja dan kehalusan pekerti solo. Kota kecil ini kelelahan mengejar ketertinggalanya, hingga anak-anak kampung ini harus menjelajah dengan apa yang mereka yakini sebagai ad-dakwah !!

bah, aku menemukan mereka dengan dinamika solo, jogja, semarang, jakarta, bogor, tanggerang dan mereka berpadu indah dengan corak-corak itu. Dan kawan, jika kalian mengenalku sebagaimana ketua kalian mengenalku, maka jangan pernah percaya pada kata-kata pertama, kedua dan ketigaku. Ambil kerah bajuku, lempar aku ke dinding dan paksa aku dengan “Katakan yang sebenarnya !!!” maka aku akn mengeluarkan semua tafsir atas kalimat-kalimatku.

ah syawal ini 3 orang datang ke rumah, dan aku sedang mabuk cinta di jogjakarta…pelan aku masi menantang kalian, “still try to keep it 10 years ha ?”

kembali ifthar

Posted September 19, 2009 by muftisany
Categories: 1

baiklah

baiklah

17.38 sebuah angka tertera sebagai penanda sebagai sebuah awal dan akhir. Tiba-tiba saja semua sosok menjadi sangat puitis untuk mengungkapkan entah buncah perasaan atau semacam tuntutan status social yang harus kita lakukan dengan sematan identitas Muslim yang kita sandang. Ah akupun demikian, larut dalam pikuk Jogjakarta yang ramai dengan Toa-Toa tua masjid dengan pekikan takbir. Seharusnya suasananya menyenangkan, bukankah televisi selalu menggelari hari ini dengan hari kemenangan ? bukankah syair- senandung juga menyebut-nyebut raihlah kemenangan. Menang adalah proses perjuangan berpeluh, payah dan sabar baru kau berhak menyebutnya menang.

Tapi tak apalah, semua proses seperti yang selalu kita baca dalam buku-buku. Ah menangkah aku? Kalahkah aku ? senangkah aku? Sedihkah aku?

Bukankah semua tiba-tiba klise berkata, “aku sedih ramadhan sudah meninggalkan kita, semoga Allah mempertemukan kembali kita dengan ramadhan” atau “ duhai alangkah celakanya diri yang tidak memaksimalkan ramadhan tahun ini, Allah pertemukan aku dengan ramadhan tahun depan.”

Tidak, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat tadi..dan justru seharusnya begitu kan Tapi apakah benar-benar kita merindukan ramadhan ? apakah kita benar-benar kehilangan ramadhan ? jadi pertanyaannya kembali, menangkah kita ? kalahkah kita ?
Nampaknya aku memilih opsi yang kedua

Tapi, ah dari semuanya itu, seperti laiknya Sahabat yang mulia, ketika kembali ifthar menyapa, ucapan mulia adalah “Taqaballahu Minna Wa Minkum..”

uzlah

Posted September 10, 2009 by muftisany
Categories: celoteh

saatnya uzlah dan saatnya sakit !!!
alhamdulillah..sampai juga di 10 hari terakhir…apakah seperti dahulu-dahulu ? ataukah kita masih akan terus mempertanyakan apakah dan apakah yang lainnya sedang kita sama sekali tidak berbuat segera ?

selamat beruzlah kawan, sampaikan maaf terbesarku ini untuk kalian, tak perlu menunggu peningkatan itu datang untuk meminta maaf, lagipula aku berencana berkelana di hari pertama 7 kali takbir…tidak dirumah, tidak di jogja, tidak dimana-mana, wanna great job…

sedang mejadi mufti seutuhnya…disaat lelah harus menjadi yang lain