kapan kesadaran seperti itu muncul ? ketika kita beranjak tua dan kita belum melakukan apa-apa. loh, apa pembandingnya kita belum melakukan apa-apa ? padahal teramat banyak jasa, budi, pamrih, kebaikan yang sudah kita hadirkan dalam perjalanan ini. Ya, pembanding. Kadang kita memerlukan atau bahkan terjebak dalam pembanding. Misalnya saja kau termasuk anugrah tuhan dengan dikaruniai umur panjang dalam kuliah, padahal dengan dimensi waktu sebagai alat ukur, seusiamu sudah teramat banyak yang meninggalkan altar pedepokan tinggi. Atau ketika banyak teramat banyak malah manusia lagi-lagi dengan dimensi umur sebagai alat ukur bebas lepas menentukan dia makan apa hari ini karena memiliki kebebasan finansial padahal aku da engkau masih merengek ke orang rumah ketika penanda kalender menunjuk angka 31.
tapi adil kah semua pembanding itu ? siapa yang memastikan bahwa pembanding yang ada adalah pembanding yang benar meskipun dia adalah kecenderungan umum. kuliah 4 tahun itu kecenderungan umu, jika kau lulus 6 tahun berdosakah kau ? umur 25 bagi lelaki alih-alih perempuan adalah usia matang untuk berumah tangga, tertuduhkah engkau jika 40 tahun belum melepas lajang ?
baru tersadar jika aku banyak merisaukan waktu sebagai parameter, padahal teronggok ribuan parameter untuk menjadi pembanding. Kekhawatiranku atas waktu akhir-akhir ini menjadi kalut, apakah diktat-diktat menjemukan perkuliahan bisa mendeskripsikan kegalauan menurut deret umur ?
menjadi anak kecil tidak selamanya menyenangkan, aku lebih menuruti umar r.a saja untuk menentukan kapankah aku harus menjadi anak kecil. yang jelas bukan sekarang


Barusan Comments