Ruangan mungil ini yang mempertemukan kami. Ruang sempit dan penuh dokumen berserakan seolah kontras dengan bangunan megah yang menaunginya. Inilah anak-anak muda dengan ketidakmapanannya terhadap kondisi orang-orang yang mereka sebut ummat. Dan disinilah aku bertemu dengannya, seorang kawan sekaligus pemimpinku. Kami bergabung dalam sebuah institusi Unit Kegiatan Mahasiswa, yang mendiami pojok sayap selatan masjid kampus UGM. Setahun perjalanan tidak mempertemukan kami dalam kerja-kerja bersama. Kesibukan dalam divisi masing-masing memang cukup hanya mengenalnya sebagai bagian besar keluarga shalahuddin. Tahun kedua, kami dipilih menjadi pengurus harian. Kami yang termuda diantara pengurus harian. Menjadikan kami harus merajut mimpi bersama, tidur bersama, mengorek keuangan kami bersama, saling traktir di angkringan kampus sebelah dan semua kosakata kebersamaan. Dia memimpin sebuah divisi sosial pendidikan shalahuddin. Mengumpulkan dana ZISWAF dan menyalurkan ke yang berhak. Bahkan di tengah kesulitan yang menderanya sendiri dia berdiri di garda depan dalam penyaluran bantuan. Ah, bukan melebih-lebihkan penggambaran tentangnya, tapi demikianlah adanya. Bahkan bagiku, dia memenuhi semua kriteria sebagai mustahiq dari divisi yang dipimpinnya. Sedang aku berkutat dengan anak-anak hanya untuk mendatangkan ustadz untuk mengisi kajian saja kesulitan setengah mati. Divisiku memang bertugas mencerahkan ummat dengan kajian-kajian keislaman, duhai indah sekali pekerjaan itu. Namun selebihnya hanya retorika. Sedangkan kawanku ini, hmm kau tau setiap musim semester dan pembayaran kuliah tiba, para lelaki shalahuddin di jamanku selalu kebingungan, dan periksalah inbox di hp monocrhom mereka dan pasti ada jawaban “maaf, ane sendiri juga kesulitan keuangan.” Termasuk aku dan tentu saja sahabatku ini. Aku lebih beruntung memang, sedikit support dari keluarga, sedang dia hanya mengandalkan beasiswa yang kadang tak tepat waktu. Dan setahun kedua, mendudukkan kami dalam kesejajaran, namun aku lebih menjunjung inferiorku dibanding dirinya, seorang yang mendedikasikan dirinya tinggal di masjid kecil, dan haqqul yakin kau tak akan tahan dengan sempitnya kamarnya.
Tapi bukan itu semua yang ingin aku ceritakan. Tahun ketiga adalah puncak dari semuanya. Pergantian pengurus adalah kemestian. Dan kali ini giliran angkatanku yang akan memegang kendali. Dan kalian tahu kan siapa yang akan menjadi pucuk pimpinan tertinggi di shalahuddin ? Semua berjalan normal, dan rata-rata 10 hari kami harus berdebat, mengajukan argumentasi, loby-loby dan tertawa. Waktu yang terlampau lama mungkin bagi sebuah UKM di UGM untuk musyawarah akhir tahun, tapi inilah tradisi kami. Tak ada hegemoni dan semua bebas untuk berekspresi. Tibalah hari terakhir, entah ini mungkin budaya yang tak patut ditiru, pemilihan ketua shalahuddin dilanjutkan sampai dini hari. Karena itu agenda terakhir, sekali lagi tak usahlah kalian tiru bagian ini. Tahun sebelumnya hanya satu yang bersedia dan akhirnya aklamasi, karena begitu tidak inginnya anak-anak ini menjadi orang yang akan dihisab dengan tanggung jawab besar menahkodai shalahuddin. Tapi aku pastikan itu tak terjadi tahun ini. Yang memenuhi syarat administratif akan ditanyai kesanggupan satu persatu, dan disinilah syahidlah beberapa kawan yang bersikap realistis. Aku mendapatkan giliran pertama, dengan mantab aku jawab bersedia, alasannya sangat aduhai, jika tidak ada yang bersedia maka kaderisasi shalahuddin gagal total menjadikan anak-anak ini sebagai pemimpin, dan aku mengambil tanggung jawab itu, maju dalam pemilihan ketua shalahuddin.tanpa tendensi dan tentu saja tanpa dukungan. Dan seperti dugaanku, anak-anak mendorong dia untuk maju juga, secara apapun bisa jadi aku kalah mutlak, tapi tekadku untuk maju tak terbendung. Akhirnya 2 orang maju, dan waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Melelahkan.
Kami diungsikan keluar, sementara anak-anak bermusyawarah menentukan siapa yang akan memimpin mereka. Aku tak sempat bicara dengannya, dia langsung berwudhu dan tahajjud, sedang aku memilih tidur-tiduran di masjid, lelah, capek dan tak peduli lagi dengan keadaan sekitar
03.00
Tak ada tanda-tanda musyawarah selesai, ada secercah harapan bahwa mereka belum menemukan kata sepakat, artinya aku diperhitungkan
03.30
Terlelap, mengelap dan belum ada tanda manusia-manusia itu keluar memberitahukan kami harus masuk, kulihat dia masih duduk bersila, fikirku tak mungkin dzikir pasti tertidur
04.00
Aku dibangunkan anak muda tak sopan ini, kelelahan aku. Ah datang juga akhirnya, saat-saat pengumuman. Harapanku terjadi deadlock dan voting terjadi. Kami duduk di kursi masing-masing. Pimpinan sidang mulai berbicara dan terlihat sekali bagaimana dia memilih kata-katanya. Tidak terjadi voting !! dan hanya satu nama yang diumumkan sebagai pucuk pimpinan sekaligus pembawa beban ini setahun kedepan, nama itu diumumkan dan terdengar tak asing di telingaku : Nia Suryana
Dan seperti ritual 3 tahun berturut-turut, pemimpin shalahuddin diambil sumpahnya tepat adzan subuh meraung-raung. Entah apa arti semua ini, dan 2 tahun belakangan itulah aku adalah orang pertama kali yang menangis, benar-benar menangis dan aku jarang menangis. Aku menangisi orang yang diambil sumpahnya didepan itu, kasihan sekali dia harus membawa berat beban itu, aku menangis padahal orang yang didepan sama sekali tak meneteskan air mata. Tangisku semakin menjadi karena kali ini, dia yang diambil sumpahnya. Tangisku buncah ketika aku memelukanya pertama kali, kubisiskkan kata yang entah darimana menyeruak begitu saja, “sabar ya yan, sabar. Kami akan membantu, insyaAllah.” Dan sejurus itulah motivasi terbesarku sebenarnya untuk maju sebagai calon ketua. Motivasiku adalah membersamainya dalam prosesi yang berat ini, yah membersamainya. Aku tahu aku tak punya banyak kans, pun dalam musyawarah tadi hanya satu orang, ya satu orang yang mendukungku habis-habisan, selebihnya melimpahkan kepercayaannya kepada dia. Dan aku bertekad membersamainya, bahkan sebelum anak-anak itu bilang akan membersamainya dalam kepengurusan kedepan, aku berkewajiban untuk membersamainya bahkan sebelum beban-beban itu dilimpahkan kepadanya. Dan tangisku reda dengan kata-katanya “ini adalah pilihan manusia, tapi kalau Allah mengijinkan pilihan ini, Dia pasti tak akan membiarkan hambanya sendirian dalam pilihan itu, dan pagi ini Allah telah mengijikan pilihan itu.”
Dedicated for nia suryana
JS 1 1428-1429 H yang harus tetap berjuang pasca shalahuddin, untuk perjuangan menghidupi diri dan adik-adik pasca fitnah dan untuk semua kosakata kebaikan yang terkumpul padanya.